Visual identity

If you want promote your business, then you have come to the right place. more »

Unique solutions

If you want promote your business, then you have come to the right place. more »

Live support

If you want promote your business, then you have come to the right place. more »

KISAH SALMAN AL-FARISI

Diposting oleh Robin

Disalah satu desa yang dekat dengan kota infahan di Persia (iran), Hiduplah seorang anak lelaki yang bernama Mabah bin Mudigsan, Usianya 11 tahun. Lalu namanya itu berubah menjadi salmamn AL-Farisi. Agama semula adalah agama Zoroaster.
Ia pernah Diserahi tugas untuk menjadi “birawan”dan dapat menguasai “api suci” yang menyala.                                                                                                                           
Salman Al-Farisi lain halnya dengan teman-temannya. Ia mempunyai jiwa dan kemauan yang keras. Dia cerdas dan baik maupun cara berpikirnya. Perasaanya halus dan budi pekerti baik serta tingkah lakunya tinggi nilainya. Sehingga orang tertarik kepada bicara dan pidatonya. Orang tuanya seorang pendeta yang taat kepada agamanya. Dia menjadi kepala desa Rahmazmur, dekat kota Isfahan (negeri Persia). Agamanya adalah agama “majusi”.
Kehendak dari orang tuanya supaya dia dapat menggantikanya, karena usianya sudah lanjut, dan dapat memimpin kaumnya Pada waktu yang sudah direncanakanya, Salman pergi menjumpai Rasullalah s.a.w di kota Madinah.
Kedatangan Slman Al-Farisi di negeri Persia, menambah kebanggaan bagi kaum muslimin. Sama halnya dengan Bilan bin Rabah dari negeri Abessiniea, dan Suhaib dari negeri Byzantium (Romawi). Berkat dengan dekat dan akrabnya Rassullalah s.a.w bertambahlah besar jiwanya.
Setelah Rassullalah s.a.w berpulang ke rahmatullah, banyak para sahabat meminta nasesat kepadanya, antara lain adalah : Abu Bakar, Umar bin Khattab.
Umar khaliah yang kedua menggangkat salman Al-Farisi menjadi gubernur di kota Madinah, bekas ibu kota kerajaan Iran. Walaupun dia sudah memangku jabatan yang tinggi, dia selalu menampilkan kehidupannya sehari-hari sangat sederhana.
Kedudukanya sebagai Gubernur di daerah asalnya ini, dimanfaatkannya untuk menggembangkan ajaran Islam kepada bangsanya sendiri. Dia merasa bangga di hatinya, karena telah dapat membina persaudaraan dalam Islam kepada sesame mereka.
Salman Al-Farisi wafat pada usia 80 tahun, sekitar tahun 30 dan 35 Hijriah di kota Madain.
---$$$---
more »

Unta Menjadi Hakim

Diposting oleh Robin



Pada zaman Rasulullah s.a.w, ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Rasulullah s.a.w lalu memutuskan unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata:
“Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu.”
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini.”
Kemudian Rasulullah s.a.w bertanya kepada unta itu :
“Hai unta, milik siapakah engkau ini ?”
Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang :
“Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta.”
Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu :
“Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar.”
Jawab orang Muslim itu: “
“Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca shalawat ke atas engkau sepuluh kali.”
 Rasulullah s.a.w bersabda :
“Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca shalawat untukku.”
Memang membaca shalawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.

more »

Kejujuran Seorang Saudagar Permata

Diposting oleh Robin



 Kejujuran Seorang Saudagar Permata


P
ada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman tabiin bernama Yunus Bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga tokonya karena ia hendak pergi shalat. Ketika itu datanglah seoran Badwi yang hendak membeli perhiasan di tokonya itu. Maka terjadilah jual beli antara Si Badwi dengan penungu toko itu, satu perhiasan permata yang seharga empat ratus dirham. Sadara Yunus Bin Ubaid menunjukan barang yang sebetulnya harganya hanya dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh si Badwi itu tanpa menawar dengan harga empat ratus dirham. Setelah di bayarnya, maka si Badwi itu pulang menuju kampungnya, sedang barang itu masih di tanganya. Ditengah jalan dia bertemu dengan Yunu Bin Ubaid yang mengenal barang yang sedang di pegang oleh Badwi itu adalah barang jualan dari tokonya.
Lalu saudagar Yunus Bin Ubaid itu bertanya kepada si Badwi :
“Berapakah harga barang ini engkau beli?”
Jawab si Badwi dengan nada bangga dan girang :
“Empat ratus dirham”
Saudagar Yunus bin Ubaid berkata :
“Harga barang itu cuma dua ratus dirham saja. Tempat yang anda beli itu adalah toko saya.sekarang marilah kembali kesana supaya engkau ambil uangmu yang dua ratus dirham itu”.
Jawab si Badwi dengan tenang :
“Biarlah, tidak usah lagi  aku menerima kelebihan yang dua ratus dirham itu. Aku telah merasa senang dan beruntung dangan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham”.
Tetapi , dsadagar Yunus bin ubaid itu tidak mau melepaskan si Badwi, Didesaknya juga agar si Badwi tersebut balik mau kembali ketokonya dan sesampai di situ, dikembalikannya kelebihan uang si Badwi yang dua ratus dirham itu.


Setelah si badwi itu berangkat pulang maka dengan marah saudagar Yunus berkata kepada saudaranya :
“Apakah engkau tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan harga dua kali lipat ?”
Jawab saudaranya :
“Dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham”, dengan nada seperti mepertahankan bahwa dia berada di fihak yang benar.
Kata saudagar Yunus :
“Ya, tetapi diatas pundak kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti meakukan terhadap diri sendiri”.
Kiranya cerita diatas itu bisa di dijadikan cermin bagi saudagar – saudagar kita yang beriman. Nah, sekiranya saudagar – saudagar dizaman sekarang ini memiliki sifat kepribadian seperti saudagar Yunus bin Ubaid diatas, maka kita pun tak bisa membayangkan bagaimana kesudahannya nanti ? Semuanya berjalan aman dan tenteram. Sehubungan dengan hal itu, Rasulullah s.a.w bersabda :
“Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas, yang member rizqi, dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorangpun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau di harga”.
(diriwayatkan oleh lima kecuali imam Nasa’I )


more »